EmitenNews.com – Setelah berganti nama dari PT Trada Maritime Tbk (TRAM) yang sebelumnya mengelola bisnis angkutan pelayaran laut, PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) yang kini berusaha di sektor pertambangan batu bara menunjukkan kinerja yang semakin solid.

Awalnya, penggantian nama itu dikarenakan PT Trada Maritime Tbk berniat mengakuisisi sebuah perusahaan pertambangan. Akhirnya, tindakan korporasi tersebut mendorong Perseroan untuk mengganti nama perusahaan kendati tanpa perubahan kode sahamnya, yaitu TRAM. Hal itu disetujui oleh para pemegang saham Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (18/10/2017).

Setahun lebih setelah penggantian nama tersebut, tepatnya di sepanjang periode Januari-Juni 2019, kinerja fundamental Perseroan terlihat semakin solid dan saham-sahamnya juga aktif diperdagangkan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Di samping disebabkan oleh penggantian bisnis inti (core business) perseroan, kinerja positif tersebut tampaknya disebabkan juga oleh pengelolaan bisnis yang lebih efisien.

Setelah berganti nama dan manajemen Perseroan mengakuisisi PT Gunung Bara Utama (GBU), sebuah perusahaan tambang batu bara di Kalimantan, dan PT Ricobana Abadi, sebuah perusahaan jasa pertambangan, maka komposisi bisnis Perseroan saat ini yang sebelumnya 100% adalah jasa angkutan pelayaran laut berubah menjadi 80% bergerak di bisnis pertambangan batu bara dan 20% di jasa angkutan pelayaran laut.

Agar dapat mengendalikan bisnis PT Gunung Bara Utama (GBU), Perseroan mengakuisisi seluruh porsi kepemilikan saham PT Semeru Infra Energi dan PT Black Diamond di GBU. Demikian pula yang dilakukan untuk mengendalikan bisnis PT Ricobana Abadi, dimana Perseroan mengambil alih saham-saham PT SMR Utama, selaku pemegang mayoritas PT Ricobana Abadi.

Langkah akuisisi tersebut berdampak positif bagi kinerja fundamental Perseroan. Pada 2018, Perseroan untung Rp295,48 miliar. Padahal pada tahun sebelumnya Perseroan masih rugi Rp33,15 miliar. Ini suatu prestasi yang luar biasa dari sebuah tindakan korporasi strategis yang dilakukan manajemen Perseroan.

Keuntungan itu diperoleh Perseroan setelah membukukan pendapatan konsolidasi Rp3,48 triliun pada 2018. Itu artinya terdapat lonjakan pendapatan hampir enam kali lipat dibandingkan pada 2017 yang hanya Rp512,23 miliar. Sekitar 68,74% dari pendapatan konsolidasi tersebut dikontribusikan oleh bisnis GBU, anak usaha Perseroan di sektor pertambangan batu bara. Adapun sebesar 24,42% dikontribusikan oleh bisnis PT Ricobana Abadi yang dijalankan oleh PT SMR Utama.

GBU pada 2018 mengalami peningkatan pendapatan sehingga dapat mendorong pendapatan konsolidasi TRAM, sebagai induk usahanya. Peningkatan pendapatan tersebut disebabkan oleh lonjakan volume produksi batu bara yang mencapai 2,6 juta ton dibandingkan pada 2017 yang hanya sebanyak 265.000 ton.

Sementara itu, harga saham TRAM pasca tindakan korporasi strategis yang dilakukan manajemen Perseroan pada akhir 2017 mengalami peningkatan 40,43 Persen yang ditutup Rp198 per saham pada akhir Desember 2017 dibandingkan per Desember 2016 sebesar Rp141 per saham. Kendati demikian, harga TRAM per Desember 2018 sedikit berubah menjadi Rp170 per saham.

Para pelaku pasar rata-rata percaya bahwa perubahan harga tersebut murni disebabkan oleh mekanisme transaksi pasar karena para pelaku pasar masih wait and see terhadap kinerja TRAM pada tahun ini, terutama ketika menjelang Pilpres pada April 2019 lalu serta penetapan pemerintahan yang baru pada Oktober 2019 mendatang.

Adapun sepanjang Januari-Juni 2019, kinerja Perseroan tampak semakin kuat. Hal itu terlihat dari pendapatan yang dibukukan sebesar Rp2,11 triliun, atau naik 63,57%, dibandingkan di periode yang sama pada 2018 sebesar Rp1,29 triliun. Kenaikan tersebut mendorong lonjakan laba kotor Perseroan sebesar 114,13% menjadi Rp367,08 miliar dibandingkan per Juni 2018 sebesar Rp171,43 miliar.

Sepanjang paruh pertama 2019 ini, laba usaha Perseroan tercatat sebesar Rp165,61 miliar, atau meningkat 30,91 persen dibandingkan di periode yang sama pada 2018 sebesar Rp126,51 miliar. Bahkan, laba sebelum pajak (Pretax Profit) Perseroan melesat lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp93,01 miliar dibandingkan per Juni 2018 sebesar Rp7,91 miliar.

Lonjakan laba sebelum pajak tersebut dikarenakan Perseroan pada semester pertama 2019 ini mengalami laba selisih kurs (forex gain) sebesar Rp8,28 miliar dibandingkan rugi kurs sebesar Rp22,73 miliar di periode yang sama pada 2018. Selain itu, Perseroan per Juni 2019 mengalami penurunan beban keuangan menjadi Rp83,69 miliar dibanding periode yang sama pada 2018 sebesar Rp111,49 miliar. Kondisi tersebut dapat diartikan bahwa Perseroan mulai mengalami penurunan kewajiban sehingga berpotensi untuk meningkatkan kegiatan investasi internal maupun eksternal Perseroan di masa depan.

Pada semester pertama 2019 ini, Perseroan pada akhirnya mampu membukukan laba Rp44,75 miliar, meningkat secara signifikan sebesar 89,94 persen dibandingkan per Juni 2018 sebesar Rp23,56 miliar. Peningkatan laba ini diharapkan manajemen Perseroan akan terus berlangsung hingga akhir 2019, mengingat rata-rata produksi harian GBU saat ini sudah mencapai 300.000 ton batu bara. Rata-rata produksi harian ini ke depan akan terus ditingkatkan untuk mencapai kinerja keuangan Perseroan yang optimal.

Harga saham TRAM per Juni 2019 berubah 26,47 persen menjadi Rp125 per saham dibandingkan harga per Desember 2018 sebesar Rp170 per saham. Harga saham TRAM relatif mendatar dibandingkan per Maret 2019 yang juga ditutup sebesar Rp125 per saham. Perubahan harga yang terjadi pada triwulan pertama tahun ini disebabkan oleh sikap wait and see para pelaku pasar menjelang pilpres pada April 2019. Kondisi tersebut berlanjut hingga akhir triwulan kedua 2019.

Dinamika pergerakan harga saham tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kinerja sebuah perusahaan secara positif tidak dapat serta merta mendorong kenaikan harga sahamnya dalam jangka waktu yang relatif singkat. Karena itu, kalangan pasar modal senantiasa percaya bahwa perubahan harga saham tersebut lebih ditentukan oleh sejauh mana pertumbuhan bisnis sebuah perusahaan dapat terus bertahan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan pihak yang berkepentingan yang pada akhirnya dapat menimbulkan sentimen yang positif sebagai suatu kepercayaan para pelaku pasar untuk terus mengumpulkan saham perusahaan tersebut. (ZAP)

Latest News